Tari Unik Rampak Gedruk Buto Dari Gunung Merapi

Tari Unik Rampak Gedruk Buto Dari Gunung Merapi

Tari Unik Rampak Gedruk Buto Dari Gunung Merapi – Terdapat gaya tari yang berawal dari lereng Gunung Merapi. Julukan gaya tari dari lereng Gunung Merapi ini merupakan Tari Harmonis Gedruk Buto.

Gaya tari ini bertumbuh sampai ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tutur harmonis mempunyai maksud berbarengan, sebaliknya gedruk berarti hentakan kaki. Julukan gaya tari ini membuktikan aksi gaya tari hentakan kaki bersama- sama.

koltunballetacademy.com 10 bedaya berias versi raksasa yang mempunyai muka mengerikan. Para raksasa itu berajojing dengan aksi tangan serta kaki yang akur. Para bedaya gaya tari Harmonis Gedruk Buto ini jadi simbol raksasa yang berumah di Gunung Merapi.

Tari Harmonis Gedruk Buto dibawakan sepanjang 45 menit serta mempunyai karakteristik khas aksi tertentu. Tidak sangat kompleks, hentakan kaki serta buaian tangan yang akur, melukiskan amarah raksasa yang berdaulat. Pada kaki para bedaya terpasang puluhan bel yang gemerincing melodius senada dengan aksen kendang serta klonengan yang mendampingi.

Baca Juga :  Tari Unik Banjar Dengan Aura Mistis Roh Halus

Kontum para bedaya gaya tari ini memakai masker dengan bentuk yang mengerikan. Masker yang dipakai umumnya berbahan kusen dengan pahatan mata yang melotot runcing dan gigi gading yang jauh. Busana yang dipakai mempunyai warna yang mencolok semacam merah, kuning, biru serta hijau. Tidak hanya itu pula dilengkapi rentengan kain sampur ataupun syal sampur serta rambut si raksasa.

Walaupun tidak dikenal siapa inventor gaya tari ini, warga lereng Gunung Merapi yakin gaya tari ini mempunyai arti yang dalam. Amarah raksasa yang berumah di lereng Gunung Merapi diakibatkan oleh kehancuran alam yang menggila. Tidak cuma hanya keelokan, gaya tari ini pula selaku pengingat buat lalu melindungi alam.

Tari Masker Betawi ialah salah satu pementasan keelokan konvensional yang berawal dari warga Betawi. Gaya tari ini umumnya dibawakan dikala hidangan pentas orang Masker Betawi, berbarengan dengan nada, lantunan, banyolan( kocak), serta drama( drama).

Tari Masker Betawi mulai berkembang pada dini Era ke- 20 di area komunitas Betawi Tepi( Betawi Ora). Sebab berkembang di wilayah pinggiran Jakarta, Tari Masker Betawi pula menemukan akibat dari keelokan Sunda.

Bagi Ensiklopedia Jakarta Disparbud Pemprov DKI Jakarta, pada dini kedatangan, warga Betawi memahami Tari Masker ini lewat pementasan mengamen kisaran desa oleh para artis.

Mereka umumnya diundang selaku pengisi hiburan dalam kegiatan acara perkawinan, khitanan, serta yang lain.

Warga Betawi dulu yakin kalau gaya tari Masker Betawi dapat menjauhkan diri dari mara ancaman ataupun musibah. Tetapi bersamaan pergantian era, keyakinan itu mulai pudar. Dikala ini Tari Masker Betawi cuma berperan selaku hiburan semata dalam acara ataupun kegiatan adat yang lain. Pada awal mulanya, pementasan Tari Masker Betawi tidak dicoba di atas pentas, namun cuma di tanah lazim dengan properti lampu minyak bertangkai 3 serta wagon kostum yang diletakkan di tengah arena.

Setelah itu pada 1970- an, gaya tari ini dicoba di atas pentas dengan properti suatu meja serta 2 buah bangku. Pertunjukannya juga diiringi dengan tabuhan semacam, rebab, kromong 3, rebana besar, kulanter, engap- engap, kecrek serta gong buyung.

Tari Masker Betawi merepresentasikan kehidupan warga dalam wujud aksi tari serta drama. Gaya tari ini pula bermuatan catatan akhlak ataupun kritik sosial yang di informasikan dengan cara lembut serta lucu, supaya tidak dialami selaku sesuatu celaan ataupun singgungan.

Sesi Tari Masker Betawi

Dikala ini, pementasan Masker Betawi dibagi jadi sebagian bagian. Dimulai dengan game nada instrumentalia yang diucap” tetalu” setelah itu performa Kangaji, ialah gaya tari dasar untuk kanak- kanak yang mau berlatih tari Masker Betawi.

Sehabis Tari Tangaji, timbul seseorang joget, bedaya wanita yang mengantarkan Tari Masker Tunggal diiringi lagu Ala Ekstrak.

Antrean selanjutnya merupakan Lipet Gandes yang ialah campuran tari serta humor. Dikala gaya tari berakhir, timbul seseorang” bodor” ataupun alan- alan yang mengajak sang bedaya berbahas serta berlatih berajojing dengan style yang lucu.

Tari Lipet Gandes disambung dengan Tari Enjot- enjotan yang dibawakan oleh pendamping wanita serta pria. Lagu pendamping gaya tari ini di antara lain ailo, enjot- enjotan, serta lipet gandes, yang mayoritas melodius Sunda.

Pementasan Tari Masker Betawi diakhiri dengan bagian humor bertempo pendek dengan narasi simpel.